Potensi Kopi Liberika di Kabupaten Sarmi: Peluang Besar yang Masih Tidur
Sarmi, 30 Juli 2025 – Mendengar info dari Yayasan Wahana Sarmi Sejahtera (YWSS) terkait adanya potensi kopi liberika di Kabupaten Sarmi, Tim Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua melakukan kunjungan lapangan ke salah satu kebun kopi milik Bapak Martinus di Kampung Sawar, Kabupaten Sarmi. Dari kunjungan tersebut, diketahui bahwa daerah ini memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan kopi Liberika. Namun, dibalik peluang tersebut, masih terdapat sejumlah tantangan yang menghambat pemanfaatan optimal komoditas ini.
Kopi liberika merupakan jenis kopi yang tergolong unik dan langka. Berbeda dengan Arabika atau Robusta yang lebih umum dikenal masyarakat. Liberika memiliki ciri khas berupa biji berukuran besar, aroma eksotis menyerupai buah tropis seperti nangka, serta cita rasa yang kuat namun kadar kafeinnya rendah. Tanaman ini juga dikenal tangguh di lahan marginal seperti gambut dan dataran rendah, karakteristik geografis yang banyak dijumpai di Sarmi.
“Budidaya kopi memerlukan kesabaran dan pengetahuan teknis. Sayangnya, saat ini belum banyak petani yang mau meliriknya karena belum melihat keuntungannya secara langsung,” ungkap Bapak Martinus.
Beliau sendiri membudidayakan kopi liberika yang berasal dari kopi yang dahulu ditanam orang tuanya. Meski belum memiliki pasar tetap, Bapak Martinus tetap konsisten membudidayakan kopi liberika. Jumlah tanaman kopi yang dimiliki sekitar 100 pohon dan berlokasi di lahan dengan luasan kurang lebih satu setengah hektar, dimana Ia juga melakukan persemaian kopi ini. Tak hanya kopi, kebun milik Bapak Martinus juga ditanami komoditas lain seperti vanili, tanaman pala, dan cengkeh. Ketiga tanaman ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat berpotensi untuk dikembangkan di wilayah Sarmi.
Masalah lain yang menjadi penghambat utama adalah belum adanya pasar yang jelas untuk kopi liberika dari Sarmi. Minimnya rantai pasok, pengolahan pasca-panen, serta kurangnya promosi membuat kopi ini belum menarik perhatian pembeli lokal maupun dari luar Kabupaten Sarmi.
“Selama belum ada pembeli tetap atau akses pasar yang jelas, petani tentu akan ragu untuk menanam. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama, baik pemerintah daerah serta stakeholder terkait bagaimana memperkenalkan kopi ini ke pasar, hal ini tentu akan menaikkan nama Sarmi sebagai salah satu daerah potensi kopi liberika” ujar Ghalih Priyo Dominanto, S.Pt, MP dari tim BRMP Papua.
Beberapa langkah untuk menjawab peluang pasar terhadap potensi “tersembunyi” Kabupaten Sarmi yang dapat ditempuh meliputi pembentukan kelompok tani kopi, pelatihan budidaya dan pengolahan, serta dukungan fasilitas dan promosi dari Dinas Pertanian Pemerintah Daerah Kab. Sarmi.